1. Evolusi Charger

Evolusi charger smartphone dari waktu ke waktu cukup mengagumkan. Di awal kemunculannya, smartphone hadir dengan charger standart dengan kemampuan charging 2.1 Ampere. Lalu hadir supercharger, quick charge dan teknologi fast charging lain yang menawarkan charging dengan 65 watt atau lebih.

Bukan hanya wired charger, wireless charger juga semakin meramaikan pasar charger smartphone. Teknologi ini menawarkan kepraktisan karena pengguna tidak perlu mencolokkan kabel ke ponsel. Cukup letakkan smarohone diatas charge, dan pengisian daya akan berlangsung secara nirkabel.

Tidak puas sampai situ, Xiaomi hadir menawarkan charger nirkabel dengan jarak yang lebih jauh. Produk yang diberi nama Xiaomi Air charger ini bisa mengisi daya ke smartphone anda ketika anda memainkannya sambil menikmati kopi di rumah atau di kamar sambil WFH.

Xiami Air Charger. Bisa mengisi daya tanpa kontak

2.
Bagai mana cara kerjanya?

Nah, ini dia pertanyaan yang pertama kali muncul dikepala dengan perangkat ini. Emang gimana sih cara kerjanya? kok bisa Xiaomi air charger ini melakukan pengisian daya jarak jauh tanpa kontak?

Ok, jadi ada sebuah teknologi yang bernama Wireless Power Harvesting. Teknologi ini bukan teknologi baru sebenarnya. Di B301 Lab tempat saya kuliah circa 2011, sudah ada yang mengambil Tugas akhir dengan topik ini. hanya dulu power harvesting ini baru mampu menyalakan sebuah lampu LED dari jarak 5 meter saja.

Jadi, Xiaomi air charger ini memiliki 2 buah buah bagian penting, pertama sisi pemancar dayanya, dan kedua penerima dayanya (yang bisa saja tertanam langsung pada ponsel nantinya).

Pada bagian pemancar daya, bentuknya adalah sebuah kotak selayaknya akses poin kekinian atau serupa bentuk air purifier mini. Tapi yang paling penting adalah apa yang ada didalamnya. Perangkat ini memiliki 144 antenna array (antenna yang dipasang secara berdampingan satu sama lain dengan konfigurasi tertentu) dengan kemampuan phase control. Karena array ini ada dalam jumlah yang sangat banyak, maka perangkat ini memiliki kemampuan untuk melakukan beamforming (pembentukan gelombang) sehingga dapat mengarahkan dayanya ke arah smartphone tujuan. Teknologi ini sebenarnya juga dipakai pada antenna Massive MIMO yang ada di 4G atau 5G, hanya saja dalam kasus Xiaomi Air charger, ini digunakan untuk memancarkan daya yang nantinya akan dipanen oleh perangkat penerima untuk mengisi daya smartphone.

Pada bagian penerima, terdapat 14 antenna array untuk membantu menangkap daya yang dipancarkan oleh pemancar tadi. Cukup massive sebenarnya jumlah antennanya, mengingat untuk data saja, kebanyakan smartphone paling hanya memiliki 4 penerima, atau 2 penerima di model lama.

3.
OOT: Bagaimana bisa menangkap energi secara wireless?

Lebih dalam mengenai Wireless power harvesting ini, pasti ada pertanyaan. Kok bisa sih menangkap energi listrik secara wireless?

Eits, jangan lupa, gelombang yang dipancarkan baik itu data, gelombang radio, maupun sinyal dari BTS itu adalah gelombang elekto magnetik. Dalam gelombang elektro magnetik, ada 2 komponen yaitu elektrik, dan magnetik. Jika komponen magnetiknya dihilangkan, maka yang tersisa adalah komponen elektriknya, nah energi elektrik inilah yang akan directifikasi menjadi daya untuk pengisian daya atau charging tadi.

Jadi, apakah semua gelombang eketro magnetik bisa dipanen? jawabannya adalah bisa. Namun anda harus memiliki sebuah antenna dengan band (pite gelombang) yang sangat lebar. sehingga bisa menangkap semua spektrum gelombang yang ada.

Bahkan salah satu dosen saya di lab pak Eko Setijadi memiliki bayangan bahwa suatu saat nanti, akan ada mahluk robot mandiri yang hidup dari radiasi gelombang elektromagnetik. Masih menurut pak Eko, robot ini nantinya dapat digunakan untuk berperang dan menghancurkan menara-menara telekomunikasi lawan. Mereka bekerja secara koloni yang terhubung dengan wireless sensor network, dan akan bergerak mendekati menara telekomunikasi, lalu akan menghancurkannya (entah dipotong, atau bagaimana silahkan diimajinasikan sendiri). dan setelahnya akan berpindah ke menara lain dengan mendeteksi sumber pancaran elektro magnetiknya.